Unknown
Angin berhembus kencang, menerpa helaian rambut Azzura yang tergerai indah di punggungnya. Langit mulai tak bersahabat. Kilatan-kilatan mulai terlihat di celah awan. “Sepertinya akan hujan.” Gumamnya melihat langit kelabu.
 
Ia pun bergegas meninggalkan gedung biru yang menjadi tempatnya menuntut ilmu. Dengan terburu-buru ia berlari menuju halte bis di depan gerbang kampus sambil mendekap buku-buku pelajaran di tangannya. Belum sempat kakinya melangkah ke halte bis, hujan turun dan membasahi dirinya. Ia langsung mempercepat langkahnya dan buku-buku yang berada di dekapannya berpindah ke atas kepalanya sebagai pelindung dari hempasan air hujan.
 
“Huuft, jadi basah begini.” Ujarnya ketika sampai di halte bis.
 
Rambutnya yang hitam, tebal, dan lurus terlihat lembab dibasahi air hujan. Ia segera merapikan rambut indahnya yang berantakan. Tangannya disibukkan dengan helaian-helaian rambut yang kusut. Sementara itu hujan semakin deras dan halte bis semakin ramai. Banyak mahasiswa yang berdiri di hadapan Azzura untuk berteduh. 
 
“Untung saja aku dapat tempat duduk.” Ujarnya dalam hati.
 
Gemuruh mulai terdengar dan angin semakin kencang menghempas butiran-butiran air hujan yang terus menciptakan genangan-genangan air di lubang-lubang jalan yang berada di depan halte bis. Cukup lama Azzura duduk disana dan hujan masih belum redah juga, tatapan kosong mulai terpancar di matanya setelah Smartphone-nya mati.
 
“Mau biskuit ukhti?” Ujar seorang wanita berhijab yang dari tadi sudah duduk di sampingnya.
 
“Eh... i-iya, terima kasih.” Jawabnya sambil mengambil biskuit dari bungkus berwarna merah.
 
Sambil mengunyah biskuit di mulutnya, tanpa sadar tatapan Azzura telah teralihkan oleh wanita cantik berhijab biru itu. Ia kagum dengan penampilan wanita itu yang begitu anggun berbalut hijab tebal nan indah. Perawakannya yang begitu lembut dan membawa ketenangan membuat Azzura semakin terpukau menatap sosok wanita itu. Hingga tiba-tiba angin berhembus lebih kencang, hempasan air hujan masuk ke dalam halte bis dan membasahi kerumunan. Hawa dingin mulai merayap di pergelangan tangan Azzura yang putih, mulus, dan lembut. Sentak ia berusaha menghangatkan diri dan langsung mengusap-usap kedua pergelangan tangannya.
 
“Dingin yah ti?” Sahut wanita berhijab itu.
 
“I-iya nih mbak.” Jawab Azzura dengan senyuman kaku.
 
 “Ini, saya ada jaket. Kalau ukhti mau boleh dipakai.” Ujar wanita berhijab itu memberikan jaket yang sejak awal sudah ada di pangkuannya.
 
“Ee, gak usah deh mbak, saya gapapa kok.”
 
“Udah dipakai saja dari pada nanti ukhti sakit.” Paksa wanita berhijab itu.
 
“I-iya, makasih yah mbak.” Balas Azzura dengan rasa sungkan.
 
Ia pun mengenakan jaket tebal milik wanita berhijab itu, tubuhnya mulai terasa lebih hangat setelah tertutupi balutan kain tebal berwarna hijau tua yang bertuliskan Mawaddah As-Syifa di bagian kanan dada jaketnya. “Namanya Mawaddah, nama yang indah.” Ujar Azzura dalam hati.
 
“Gimana ti? Udah lebih hangat?” Ucap Mawaddah.
 
“Sudah lebih hangat, makasih yah mbak Mawaddah.” Jawabnya.
 
“Loh kok tau nama saya?”
 
“Ini tertulis di jaketnya mbak.”
 
“Oh iya hehe, saya lupa. Ngomong-ngomong jangan panggil mbak dong, panggil aja Mawaddah. Saya mahasiswa semester 6 fakultas Kedokteran.”
 
“Nama saya Aqila Azzura, biasa dipanggil Azzura, saya mahasiswa fakultas sastra semester 4. Sepertinya saya memang harus panggil mbak, karena mbak lebih senior.”
 
“Yasudah kalau begitu, panggil mbak juga gapapa.”
 
“Oh yah mbak, dari tadi manggil saya ti.. ti.. apa itu tadi?”
 
“Maksud kamu ukhti?” Sahut Mawaddah menyela ucapan Azzura.
 
“I-iya itu mbak, kalau boleh tau artinya apaan yah?” Tanya Azzura bingung.
 
“Ukhti itu berasal dari bahasa Arab yang berupa panggilan untuk saudara perempuan. Sama halnya seperti kamu manggil saya dengan sebutan mbak. Temen-temen saya biasa manggil saya ukhti Mawaddah.”
 
 “Oh begitu, saya kira apaan.. Nama saya kan bukan Siti, kok dipanggil ti..ti.. hehehe” Jawab Azzura seraya bercanda.
 
“Hahaha.. Mau biskuit lagi?” Tawar Mawaddah.
 
Kali ini tanpa rasa canggu Azzura menggerakkan tangannya untuk mengambil sepotong biskuit coklat yang berbalut bungkus merah di tangan Mawaddah.
 
“Sebenernya saya sempat ragu di awal ketika melihat kamu, apakah kamu muslim atau bukan? Tapi setelah melihat nama di buku yang kamu pangku, saya jadi yakin kalau kamu seorang muslim.” Ucap Mawaddah tiba-tiba.
 
“Kok mbak bisa ragu, emangnya wajah saya gak kelihatan seperti orang islam yah?” Jawab Azzura dengan sedikit merasa tersindir.
 
“Bukan, bukan seperti itu. Sungguh tak ada maksud saya mengatakan demikian. Tetapi seorang muslimah diwajibkan oleh Allah untuk menutupi aurat-auratnya. Dan sesungguhnya yang membedakan antara wanita muslim dengan yang bukan adalah jilbab mereka.” Jelas Mawaddah panjang lebar.
 
“I-iya mbak, dulu mama saya juga sering bilang seperti itu. Hanya saja saya merasa belum siap mengenakan jilbab.” Ujar Azzura malu setelah mendengar penjelasan Mawaddah.
 
“Hehehe, kamu itu cantik banget loh. Laki-laki mana yang gak suka dengan wanita cantik seperti kamu. Mata yang indah dengan bulu mata yang lentik, Alis tipis yang menawan, kulit putih dan bersih, dan hidung mancung yang bikin orang pesek iri. Hehehe.. Saya nggak kebayang, jika kamu mengenakan jilbab, berapa banyak lagi kecantikanmu akan bertambah.” Ucap Mawaddah sambil menggoda Azzura.
 
“Aah, mbak ini bisa aja.” Jawab Azzura sambil menunduk malu.
 
“Mbak juga cantik, ketika melihat mbak rasanya saya jadi merasa tenang dan adem gitu.” Sambungnya.
 
“Adem? Emangnya saya AC. Hahaha” Canda Mawaddah dengan tawa kecilnya
 
“Serius loh, mbak emang cakep, perawakan mbak itu seperti seorang ustadzah saja.”
 
“Hehehe.. saya bukan ustadzah kok, saya gak lebih baik daripada muslimah lainnya.”
 
“Mbak bener-bener membuat saya kagum sekaligus cemburu.”
 
“Loh, kok gitu?” Ucap Mawaddah kaget.
 
“Hehehe.. iya mbak, ntah mengapa begitu berat bagi saya untuk berjilbab seperti mbak.”
 
“Hmmm... Tidak ada yang berat ukhti, semua wanita itu memiliki kecantikannya tersendiri. Ukhti Azzura bisa kok berjilbab, saya gak keberatan buat ngajarin ukhti.”
 
“Mbak serius mau ngajarin saya?”
 
“Iya ukhti, by the way, itu biskuitnya dimakan dong, masa dianggurin aja dari tadi.”
 
“Eh, iya mbak.. hehehe” Jawab Azzura malu.
 
Saat itu Azzura tak pernah menduga bahwa pertemuannya dengan Mawaddah akan mengubah hidupnya. Hari itu, saat langit gelap tertutup awan kelabu dan nikmat-Nya bertebaran di penjuruh bumi. Sebuah pelangi nan indah bersinar di antara dua muslimah yang Allah pertemukan di bawah naungan atap halte bis.
 
“Mbak, kok tau saya muslim setelah lihat nama saya?” Ujar Azzura penasaran.
 
“Oh itu, hehe.. sebenarnya saya selain kuliah di fakultas kedokteran, juga sering ikut les privat bahasa Arab dengan seorang kenalan saya yang kebetulan seorang Sarjana dari Al-Azhar, Kairo. Jadi ketika saya melihat nama kamu, saya tau kalau itu bahasa Arab, biasanya orang tua itu sering mengambil bahasa Arab menjadi nama anaknya sebagai do’a dan pengharapan mereka terhadap anaknya.” Jawab Mawaddah.
 
“Beneran tuh mbak? Saya malah gak tau sama sekali kalo nama saya itu bahasa Arab. Yang saya tau, nama saya cukup keren dibandingkan dengan nama-nama temen saya yang lain. Seperti Siti, Nisa, Sari, dan nama mainstream lainnya.”
 
“Huuuss, gak boleh seperti itu. Nama itu adalah pemberian orang tua untuk anaknya, disana terselip do’a tulus mereka untuk anaknya. Jadi, gak peduli se-mainstream apapun nama mereka, kita harus menghargainya.”
 
“Ma-maaf mbak. Saya malah jadi menyombongkan nama saya.” Ucap Mawaddah malu.
 
“by the way arti nama saya apa yah mbak?” Sambungnya.
 
“Dalam bahasa Arab, Aqila itu artinya wanita yang baik, mulia, dan terhormat. Subhanallah, nama yang sungguh indah, bukan?”
 
Aqila tersipu malu melihat wanita berhijab biru itu memuji namanya, ia pun tertunduk dan menganggukkan kepalanya. Ia tak pernah tahu kalau namanya itu ternyata memiliki arti yang sangat indah. Aqila, wanita yang baik, mulia, dan terhormat. Seketika ia bertanya pada dirinya, “apakah aku pantas menyandang nama seindah ini? Aku bukanlah wanita yang baik dan mulia seperti mbak Mawaddah, terhormat? Aku tak tau apakah aku pantas dibilang wanita terhormat sementara aku tidak bisa menjaga auratku? Sepertinya aku tak pantas dengan nama ini.”
 
“Hei, kok malah bengong.” Ujar Mawaddah memecah lamunan Azzura.
 
“Mau dilanjutin, gak?” Sambungnya lagi.
 
“Eeh. I-iya mbak, maaf yah hehehe.” Jawab Azzura kaget.
 
“Kalau Azzura itu berasal dari bahasa Persia, Inggris, dan Spanyol yang artinya langit yang biru. Indah, menenangkan dan menentramkan ketika melihatnya. Sepertinya orang tua kamu memiliki harapan besar padamu dengan memberikan nama itu. Wanita yang baik, mulia, dan terhormat, seperti indahnya langit biru. Subhanallah nama yang benar-benar indah.”
 
“Saya jadi malu sekaligus minder mbak.” Ucap Azzura.
 
“Loh, kenapa?” Sahut Mawaddah heran.
 
“Saya merasa gak pantes menyendang nama seindah itu. Saya bukanlah wanita yang baik dan mulia seperti mbak, saya juga belum mampu menjaga kehormatan diri saya dengan memakai jilbab, padahal saya seorang muslim.” Tanpa sadar Azzura sudah meneteskan air mata.
 
“Eh, loh, kok saya jadi cengeng gini yah.” Sambung Azzura sambil mengusap air matanya.
 
“Jangan merasa seperti itu, Allah itu Maha Bijaksana. Mungkin pertemuan kita kali ini merupakan suatu kesempatan bagi ukhti untuk mulai memperbaiki kesalahan di masa lalu. Nama yang indah itu adalah pemberian kedua orang tua ukhti, itu adalah sebuah pengharapan mereka pada ukhti. Saya tidak keberatan jika ukhti mau saya ajari gimana caranya mewujudkan harapan kedua orang tua ukhti.” Ucap Mawaddah mencoba menenangkan Azzura.
 
“Makasih yah mbak, sudah mau memberikan saya nasihat dan juga mengingatkan bahwa saya adalah seorang muslimah.” Ujar Azzura.
 
Pembicaraan yang panjang itu akhirnya berlanjut menjadi sebuah ta’aruf yang membuat mereka semakin akrab. Azzura tak pernah merasa senyaman ini dengan orang yang baru ia temui, seorang wanita berhijab biru tua yang membuatnya merasa tenang dan nyaman untuk berbagi. Ia merasa seperti sudah begitu lama mengenal Mawaddah, seperti sudah bertahun-tahun bersahabat dengannya. Ia merasa bahwa Mawaddah adalah sosok teman yang berbeda daripada teman-teman yang pernah dia temui. Teman-teman yang selalu mengajaknya ke jalan yang salah. Kini di hadapannya seorang bidadari cantik mengulurkan tangan penuh harapan. Akankah Azzura meraih uluran tangan itu? Ataukah ia akan menepisnya lagi? Seperti ketika ibunya menasihatinya dulu.
 
Hujan mulai berhenti, angin menghilang, dan cahaya hangat mentari mulai merambat melalu sela-sela awan kelabu yang mulai memudar. Satu per satu orang-orang mulai meninggalkan kerumunan, halte bis yang tadinya ramai kini mulai sepi. Azzura dan Mawaddah terlalu asyik berbagi cerita hingga tak menyadari hal itu.
 
“Eh, hujannya sudah redah.” Ucap Mawaddah.
 
“Iya mbak, sepertinya kita terlalu asyik cerita nih.” Sambung Azzura.
 
“Kalo gitu saya duluan yah, soalnya saya ada les privat setelah ini.” Ucap Mawaddah.
 
“Oh iya mbak, ngomong-ngomong ini jaketnya saya lepas dulu.”
 
“Gak usah, pakai aja dulu. Lain kali saja dikembalikan. Lagi pula suhu masih cukup dingin.”
 
“Beneran gapapa nih mbak, saya jadi nggak enak hati.”
 
“Iya gapapa, kalo gitu saya jalan duluan yah. Tempat les saya gak jauh dari kampus jadi saya biasa jalan sepulang kuliah ke rumah guru privat saya.”
 
“Iya mbak, hati-hati yah.”
 
“Duluan yah ukhti, assalamu’alaikum.” Ucap Mawaddah.
 
“Iya mbak, wa’alaikumsalam.” Balas Azzura.
 
Mawaddah mulai melangkahkan kakinya, Azzura melihat sosoknya yang begitu anggun dengan hijab biru tua yang membaluti tubuhnya. Perlahan-lahan Mawaddah mulai menghilang dari pandangannya, ia mulai menggenggam erat kedua lengan jaket yang ia kenakan. Ia merasa telah dipertemukan dengan seorang wanita luar biasa yang bisa membantunya berubah. Hingga akhirnya ia menyadari sesuatu.
 
“Eh, astaga. Aku lupa minta nomor handphone-nya.” Ucap Azzura.
 
“Gimana cara menghubungi mbak Mawaddah kalo begini? Gimana cara ngembalikan jaketnya?” Timpalnya lagi.
 
Seketika Azzura teringat ucapan Mawaddah, “Oh iya hehe, saya lupa. Ngomong-ngomong jangan panggil mbak dong, panggil aja Mawaddah. Saya mahasiswa semester 6 fakultas Kedokteran.”
 
“Fakultas kedokteran, semester 6 yah. Besok sepertinya aku harus keliling FK buat nyari mbak Mawaddah.” Ujarnya.
 
Akhirnya Azzura memutuskan untuk pulang ke rumah. Pertemuannya dengan Mawaddah hari ini bukanlah suatu kebetulan belaka. Azzura tak pernah sadar, kalau sesuatu yang luar biasa telah menantinya. Bersamaan dengan menghilangnya awan kelabu, skenario Allah untuk Azzura terus berjalan.
 
Penulis : Umar Abdurrauf
Unknown
Teman, disana engkau terbuai akan kenikmatan.
Sementara kami disini menanggung pahitnya penderitaan.
Teman, di depanmu tersuguh segala jenis makanan.
Sementara perut kami bertahan dalam kelaparan.



Kami berjuang demi sepercik kenikmatan.
Sementara kau tenggelam jauh didalamnya.
Kami berjuang demi segenggam nasi di tangan.
Sementara perutmu dipenuhi olehnya.


Teman, pernahkah kau iri dengan hidup kami?
Hidup yang penuh dengan rintihan dan pengharapan.
Teman, pernahkah kau impikan hidup seperti kami?
Hidup yang penuh dengan tangisan dan khayalan.




Disini kami tenggelam dalam rasa iri.
Melihat segala sesuatu yang kau nikmati.
Disini kami termakan rasa cemburu.
Melihat segala kecukupan dalam hidupmu.

Teman, bagaimana rasanya tidur berselimut kehangatan?
Nyamankah?? Andai kami bisa merasakan.
Teman, bagaimana rasanya bermain dan belajar disekolahan?
Asyik kah?? Andai kami bisa merasakan.

Teman, bagi kami tidur adalah sebuah siksaan.
Beralaskan koran dan beratapkan langit ciptaan tuhan.
Teman, bagi kami sekolah adalah sebuah khayalan.
Berharap suatu hari nanti menjadi kenyataan.

Teman, masihkah kau mengeluh kepada tuhan?
Karena yang kau inginkan tak terkabulkan.
Teman, masihkah kau mengeluh pada kehidupan?
Karena mimpimu yang tak terwujudkan.

Sedangkan kami disini hidup sebagai sampah jalanan.
Sedangkan kami disini berusaha tertawa dalam pahitnya kehidupan.
Dunia memandang kami dengan sebelah matanya.
Seakan kami tak pantas tinggal dalam keindahanya.

Teman, maukah kau merasakan yang kami rasakan? Mungkin tidak.
Hinaan adalah makanan yang tak mampu kami habiskan.
Rasa iba adalah hujan yang selalu kami nantikan.
Tangan menengadah bukan hanya untuk berdo’a.
Berharap secuil rezeki mendarat tepat di atasnya.

Teman, bersyukurlah atas nikmat yang kau rasakan.
Lihatlah kami yang hidup dalam penderitaan.
Mengais rezeki dengan penuh keterhinaan.
Hanya demi sesuap nasi yang kau abaikan.

Teman, coba kau bayangkan..
Sampah yang kau buang dan campakkan.
Bagi kami adalah sumber kehidupan.
Teman, coba kau bayangkan..
Makanan yang tak kau habiskan.
Bagi kami adalah sumber kenikmatan.

Teman, disana engkau terbuai akan kenikmatan.
Sementara kami disini menanggung pahitnya penderitaan.
Teman, di depanmu tersuguh segala jenis makanan.
Sementara perut kami bertahan dalam kelaparan.
Dunia memandang kami dengan sebelah matanya.
Seakan kami tak pantas tinggal dalam keindahanya.

Teman, maukah kau merasakan yang kami rasakan? Mungkin tidak.
Teman, bersyukurlah atas nikmat yang kau rasakan.
Lihatlah kami yang hidup dalam penderitaan.
Mengais rezeki dengan penuh keterhinaan.
Hanya demi sesuap nasi yang kau abaikan.
Label: 0 komentar | edit post
Unknown


Aku duduk terdiam di atas tempat tidurku, ku tarik nafas dan ku hela secara perlahan. Ku tatap nanar kaca jendela yang mulai di basahi rintik nikmat dari Sang Pencipta. Aku tersenyum seketika dan tanpa ku sadari air mata sudah membasahi jilbab besar ku yang menjulur menutupi aurat ku.

“Allah itu Maha Baik.” Ujarku secara perlahan.

Allah selalu tahu isi hati setiap hamba-Nya, begitu pula dengan hatiku. Awan kelabu dan suara rintikan hujan seakan menjadi latar dan simponi Qolbu ku saat ini. Entah aku harus senang atau sedih semua bercampur aduk menciptakan dilema di dalam hati.

Mungkin aku yang salah karena lalai dari peringatan-Nya. Hatiku terlalu jauh membawaku pergi melewati batasan yang telah ditentukan oleh-Nya.

”Ya Allah, ampunilah aku.” teriakku dalam hati.

Masih teringat jelas dalam benakku hari pertama aku melihatnya. 7 Tahun yang lalu saat aku masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Aku tak pernah menyangka bahwa pertemuanku dan dia akan menjadi sebuah duri dalam hatiku saat ini.

******                                                      

7 Tahun yang lalu aku hanyalah seorang gadis akhil baligh yang baru lulus dari Madrasah Tsanawiyah (MTs). Layaknya kebanyakan gadis di usiaku saat itu aku mulai mengalami masa-masa pancaroba yang wajib dilalui semua orang. Walaupun aku lulusan sekolah yang bertajuk islami, tapi tak mengartikanku sebagai pribadi yang demikian.

Setelah menerima surat kelulusan, aku menetapkan untuk melanjutkan pendidikan ke salah satu SMA Negeri dan Alhamdulillah, Allah mengabulkan doaku. Hari-hari awal disana ku lalui dengan biasa, masa MOS dan perkenalan berlangsung cukup menarik walau sedikit menjengkel kan.

Aku mengenal dirinya dari sebuah acara pengajian rutin yang di selenggarakan sebuah organisasi islami di sekolahku, atau yang lebih dikenal dengan ROHIS (Rohani Islam). Sosoknya begitu berwibawa, murah senyum, dan pendiam.

Pada awalnya aku memutuskan untuk ikut ROHIS agar bisa mengenalnya lebih jauh. Dia kakak kelas yang 2 tahun lebih tua dariku. Tak jarang saat itu aku sering mencuri-curi pandang terhadapnya. Namun tak sedikitpun ia memperhatikanku, kemanapun aku melihatnya berjalan, tatapannya selalu ditujukan pada tanah yang tak berdosa..

”Nih orang aneh banget sih, kalo jalan sambil ngukurin tanah.” ujar Zahra.
”Bukan ngukurin tanah, kakak itu lagi nyari koin. Siapa tau ada yang jatuh, kan lumayan hehehe..” jawabku ngawur

Bukan cuma aku, tak sedikit teman-teman yang masuk ROHIS hanya untuk memata-matai si kakak cuek ini. Yah, kakak cuek! Begitulah kami memanggilnya saat itu. Ia sama sekali tak menghiraukan perempuan yang mendekatinya, ia fokus pada kegiatan dan dirinya. Sombong, itulah yang pertama kali terlintas dalam fikiran teman-temanku.

Hanya ketika ROHIS mengadakan rapat atau acara tertentu, ia baru mau memperhatikan kami. Itupun hanya sebatas melihat amanah yang kami laksanakan. Bertanya dengan nada sedikit tegas, itu karena ia adalah Ketua ROHIS kami.

Awalnya aku kira kakak ini homo!! Karena sikapnya yang begitu dingin terhadap perempuan, namun begitu akrab dengan teman-teman sejenisnya. Tak sedikit pula teman-temanku yang patah hati karena mendapatkan ponolakan darinya, kakak-kakak senior kami mengatakan bahwa ia tak akan mau pacaran.

Aku mengerti alasannya, memang itu adalah alasan yang sangat wajar bagi orang sepertinya. Aku pernah mendengar desas-desus tentang haramnya pacaran di dalam islam. Terlebih dia begitu tekun mendalami agamanya, hingga ia mampu mengekang cintanya dalam penjara yang ku sebut kesabaran.

Suatu ketika aku memberanikan diri bertanya langsung padanya melalui sebuah sms. Aku sedikit malu, bertanya kepada seorang lelaki tentang ”apa itu cinta?”. awalnya aku mengira ia tak akan mau menjawab sms-ku, terlebih dari seorang yang mungkin nomornya asing.

Namun ternyata, ia menjawabnya dengan kalimat yang begitu indah.

”Cinta adalah sebuah fitrah yang diberikan Allah kepada manusia, maka  sandarkanlah cinta hanya kepada Sang Maha Cinta. Sebelum engkau mencoba mencintai manusia, belajarlah mencintai-Nya, sebelum engkau mencoba membahagiakan manusia, bahagiakanlah diri-Nya.”

Entah apa yang ku rasakan saat itu, apakah perasaan yang ku rasakan terhadapnya adalah cinta ataukah hanya sebuah kekaguman yang berbalut nafsu dunia. Jika dibandingkan dengan dirinya aku bukanlah sosok wanita sholehah yang pantas dengan lelaki sepertinya. Aku ingin membalas smsnya, namun rasa malu menyelimuti hatiku.

Sejak hari itu aku mulai tertarik mempelajari agama, mencari tahu lebih dalam “apa itu cinta??”. Tanpa ku sangka semua itu mengubah hidupku, sedikit demi sedikit aku mulai rutin mengikuti kegiatan yang di adakan ROHIS dan perlahan aku mulai banyak belajar. Tanpa ku sadari hari demi hari berlalu, teman-teman bilang sikapku berubah. Lebih pendiam dan sering membaca buku-buku islami. Tak kalah dari itu penampilanku pun telah berubah. Kini jilbabku lebih besar dan menjulur indah, aku mulai percaya diri dan nyaman dengan penampilan baruku, walaupun ada saja kicauan-kicauan merdu yang menyinggung dengan penampilan baruku.

Wanita begitu istimewa, begitulah cara Allah menjaganya. Aku mulai perdalam ilmu ku dalam memaknai agama cinta-Nya. Bukan hanya penampilanku, tapi hidupku pun mulai berubah, mungkin aku tak akan tersadar akan perubahan itu jika saja ibuku tak mengatakannya.

Ibu bilang, sekarang aku lebih rajin dalam mengerjakan sholat lima waktu, rutin bertilawah dan ternyata ibuku diam-diam mengintipku ketika aku hendak melaksanakan sholat malam. Cara bicaraku yang dulunya berantakan perlahan berubah dan lebih terjaga.

Aku senang, perubahan ini mengukir senyum di wajah kedua orang tua ku. Saat itu aku tersadar akan sesuatu, sebuah kalimat yang membuat air mataku bercucur ria.”Ridho Allah terletak kepada ridho kedua orang tua.”

Hari itu aku mengerti, cinta yang ku miliki adalah milik-Nya dan hanya kepada-Nya lah aku menyerahkan cinta. Kebahagiaan yang dirasakan kedua orang tua ku adalah salah satu bentuk cinta-Nya. Cinta mengubah hidupku, cinta mengajarkanku taat kepada apa yang aku cintai, cinta mengajarkan ku berubah.

Kini aku mengerti defenisi cinta yang sesungguhnya, cinta yang murni hanyalah cinta yang di tujukan pada Sang Maha Cinta. Cinta kepada manusia tanpa disandarkan pada-Nya hanyalah sebuah nafsu semata.

Aku juga mulai mengerti, makna dari menundukkan pandangan yang Allah perintahkan kepada hamba-Nya. Kini aku jadi ikut-ikutan disebut sebagai pengukur luas tanah atau si pencari koin. Sepertinya aku kena batunya karena pernah ngejek kakak itu di waktu yang lalu.

Hidupku berubah seiring dengan penampilanku, namun satu hal yang tak mampu ku ubah adalah kekagumanku padanya. Aku masih bertanya, apakah perasaan ini adalah sebuah cinta karena-Nya ataukah nafsu sahaja?

Ini adalah penghujung semester akhir, kekhawatiran mulai tertanam dalam hatiku. Perlahan tumbuh menjadi pohon keraguan yang berbuah kesalahan. Yah, mungkin itu adalah kesalahan terbesar yang pernahku lakukan. Saat itu aku tak tau setan apa yang menguasaiku, tanpa ku sadar aku mulai ragu dan tak yakin dengan janji-Nya.

Tak lebih dari setahun aku mengenalnya, namun ia membuatku banyak berubah. Membuatku semakin mendalami agama cinta-Nya. Jika dibandingkan dengan dirinya, pemahamanku masihlah jauh dibawahnya. Hatiku pun tak mantap seperti hatinya, imanku goyah tak sekokoh imannya. Aku takjub akan dirinya yang di usia muda memiliki kecintaan terhadap agamanya tak seperti kebanyakan lelaki seusianya.

Hari itu melalui sepucuk surat yang ku selipkan di sepeda motornya, ku nyatakan perasaanku. Ku ungkapkan betapa kagum aku pada dirinya, ku jelaskan rumitnya perasaanku, ku ceritakan perubahan yang ku lakukan untuk menjadi wanita yang baik untuknya, dan ku nyatakan betapa berharapnya aku menjadi bidadari surganya.

Aku tak tau entah apa ekspresi yang ia tampakkan saat ia membaca namaku di surat itu. Aku gelisah dan mulai resah dengan jawabannya, apakah ia juga mencintaiku?? Ku hapus pikiran konyol itu dari otakku.

Tiba-tiba handphone-ku berdering dan sebuah pesan masuk, aku terkejut itu darinya. Pertama dan terakhir kali aku mengirim sms padanya adalah saat aku bertanya ”Apa itu cinta?” dan saat itu aku tak memperkenalkan identitasku. Apa mungkin dia menyimpan nomorku? Atau ia memang tahu itu aku? Ku hapuskan pertanyaan-pertanyaan itu dan mulai ku baca isi sms nya.

Assalamu’alaikum,ukhti khansa.

Sungguh ana sangat tersanjung dengan surat yang ukhti berikan. Sungguh Allah Maha Cinta, mohon maafkan ana karena belum bisa menjawab pertanyaan ukhti.

Biarlah pada waktunya, Allah akan menjawab semua. Jika memang benar yang ukhti rasakan itu cinta, maka jagalah ia dalam indahnya diam, sebagaimana Fatimah menjaga cintanya untuk Ali.

Tetaplah berbenah diri, karena sungguh kekasih itu datang sesuai keimanan di hati, Allah telah berjanji dan Ia lah yang Maha Menepati Janji.

Jika memang Allah menakdirkan seperti yang ukhti harapkan, siapapun tak akan bisa menolaknya. Namun jika Allah menakdirkan tidak seperti yang ukhti harapkan, yakinlah Allah selalu memberikan yang terbaik buat hamba-Nya.

ALLAH MAHA BAIK

Semoga Allah selalu menjaga kita dalam naungan Cinta-Nya.

Sms panjang itu membuat hatiku bergetar, walau ku tau tak ada jawaban untuk perasaanku di dalamnya, namun kegelisahanku perlahan sirna. Aku merasa malu dan tak tau harus bersembunyi dimana, masih ada beberapa hari yang harusku lalui, dan aku harus berpapasan dengannya.

Ia begitu profesional dalam menjaga sebuah rahasia, tak ada satupun orang yang tahu tentang kejadian itu, termasuk teman-temanku. Setiap berpapasan denganku ia hanya melintas dan berlalu. Tak sedikitpun terlihat adanya hal yang berbeda dari biasanya, seolah tak pernah terjadi apa-apa.


Semua berlalu begitu saja, ia lulus dengan hasil yang luar biasa. Ia akan melanjutkan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung (ITB), salah satu Universitas ternama di Indonesia. Mendengarnya akan melanjutkan kuliah di luar kota, membuatku tak tau harus apa? Senang atau sedih? Namun semua itu ku jalani begitu saja. Aku hanya bisa berdoa kepada Allah untuk selalu menjaganya disana.

****

2 tahun berlalu, aku lulus dengan nilai yang melebihi harapanku. Aku memutuskan untuk melanjutkan kuliahku di dalam kota, seperti keinginan orang tuaku yang khawatir bila aku jauh. Selama itu pula tak ada yang berubah dari hatiku, sempat ada beberapa lelaki yang mencoba mendekatiku, namun selalu berhasil ku hindari.

Selama di ROHIS aku belajar banyak dan semakin mengerti, kini aku hampir sepenuhnya paham setiap kalimat yang dulu pernah ia kirimkan. Dia hanya pernah 2 kali mengirimkan sms padaku, dan hingga hari ini sms itu masih tetap ada dalam file tersimpan Handphone ku.

ROHIS membuatku bertemu dengan seorang sahabat yang setia, Zahra. Pada awalnya kami berdua sama, sama-sama tak paham tentang agama, dan sama-sama suka pada orang yang sama. Namun, setelah kepergian kakak itu, Zahra tak pernah lagi membicarakan tentang dirinya, malah aku lah yang selalu membuka bahasan tentang dirinya.

Zahra menjadi tempat curhat setia ku, ia mau mendengarkan jeritan hatiku yang begitu mengharapkannya. Aku bahagia sekali memiliki sahabat yang setia di jalan yang sama, yakni jalan cinta-Nya.

Zahra juga banyak berubah. Pertama mengenalnya, ia tak mengenakan jilbab dan Alhamdulillah kini ia sudah mengenakan jilbab yang syar’i. Pemahamannya tentang agama pun cukup luas, bahkan tak jarang aku bertanya dan mendengarkan penjelasan darinya. Terkadang aku merasa ia lebih baik dari pada diriku. Terlebih lagi ia sudah hafal lebih dari 9 Juz, sementara aku hanya hafal 1 Juz, itupun Juz ‘Amma. Aku tak mau kalah darinya, aku juga ingin menjadi seorang hafizah Qur’an. Hehe..

Akhirnya aku dan Zahra harus berpisah, ia harus melanjutkan kuliahnya di luar kota. Ia ingin menjadi guru yang baik, itu cita-citanya, dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menjadi tempat pilihannya. Walaupun jarak dan waktu menjadi tebing pemisah kami, namun ukhuwah di antara kami tetap terjaga, kami masih sering berbincang ria lewat telfon atau sms.



****

5 tahun ku habiskan waktuku, memperdalam ilmu disebuah universitas negeri di daerahku. Selama 5 tahun itu pula di setiap sujud malamku, selalu ku sempatkan untuk berdoa, menyebut namanya dalam kelam malam. Berharap Allah akan menyatukan kami dalam sebuah ikatan suci. Bahkan terkadang aku tersenyum sendiri menghayalkan pertemuan kami kembali.

Aku bergabung dengan sebuah organisasi islami disana, ku temui begitu banyak lelaki seperti dirinya, namun tetap saja perasaanku mengatakan dia istimewa. Bahkan sudah ada beberapa dari mereka yang mendatangi kedua orang tuaku, namun ayah dan ibuku selalu membiarkan aku yang menentukan. Tentu saja aku selalu mencari alasan untuk tak menerima khitbah mereka, masih ada seorang lelaki yang ku nantikan kehadirannya hingga kini.

Aku bingung kenapa aku menunggu? Ia tak pernah memberikan jawaban yang pasti padaku. Ia tak pernah memintaku untuk menunggunya. Hari ini saja, aku tak tau ia sedang apa dan dimana? Apakah ia masih hidup atau sudah tiada? Dan apakah ia sudah menikah atau belum? Semoga saja belum.

Hanyalah keyakinan yang membuatku bertahan, 7 tahun mencintainya bukanlah waktu yang singkat. Selama itu pula aku menunggu dan berharap. Berdoa dan selalu menyebut namanya.
Cinta adalah kepergian hati mencari yang dicinta, seraya lisan terus-menerus menyebut yang dicinta. lisan senantiasa menyebut yang dicinta, tak ragu lagi karena dirinya tengah dirundung cinta yang teramat sangat, maka ia akan banyak menyebutnya.

****

Hari ini semua penantianku telah terjawab, duduk di atas sebuah tempat tidur, aku menangis dalam senyuman, menatap nanar ke jendela yang sudah kuyup di penuhi tetesan hujan.

Layaknya langit yang tengah menangis, aku pun sama, duduk berjam-jam disini sedang menumpahkan kerinduan pada dirinya. Scene potongan kejadian masa lalu di pelupuk mataku sudah habis ku putar. Kini aku mengembalikan fokus pandanganku tertuju ke benda di tanganku. Benda yang sedikit lebih tebal dari kertas, berwarna biru pemberian sahabat ku Zahra. Entahlah sudah berapa puluh kali aku membolak-balikkan benda itu, dan entahlah sudah berapa kali hati ini merasa terbolak-balik karena melihat isinya.

Sebagai sahabat ini adalah kabar baik untukku, namun sebagai orang yang sudah menunggu bertahun-tahun lamanya ini adalah kabar yang menyakitkan bagiku. Lalu dimana aku harus menempatkan diriku sendiri?? Butuh berapa lama aku untuk men-sinkronisasi-kan antara hati dan logika ini?? Zahra adalah sahabatku dan lelaki itu adalah nama dalam doa ku.

Hujan sudah reda diluar sana, nampaknya langit sudah puas menyatakan kerinduannya pada bumi. Aku melangkah gontai beranjak dari tempat tidurku, menghapus air mata yang sudah membasahi jilbab ku. Ku hela napas panjang dan tersenyum menatap langit diluar jendela.

Aku akan datang, menjadi saksi ucapan janji abadi sehidup semati antara dia dan Zahra. Aku akan hadapi semuanya, lari dari kenyataan adalah tindakan bodoh. Allah yang menakdirkan semua ini, berarti inilah yang terbaik untukku. Biar lah aku menelan semua pahit dan sakitnya perasaan ini dan biarkan waktu yang akan mencernanya. Karena aku tau, rasa sakit ini hanyalah bersifat sementara.

Sesungguhnya, Allah akan menggantinya dengan sebuah balasan yang nyata. Apakah penantianku sia-sia?? Tentu tidak, karena hari ini aku belajar ikhlas mencintai seseorang karena-Nya. Jika dulu aku memutuskan mencintainya dengan ikhlas, maka sekarangpun kehilangannya aku harus ikhlas.

Allah Maha Baik!! itulah yang ku pelajari dari dirinya. Ku tatap 2 buah pesan darinya yang 7 tahun lamanya sudah tersimpan di Handphone jadul ku, ku tarik napas panjang lalu ku hela perlahan seraya berkata.

”Allah Maha Baik.” Aku pun tersenyum menatap langit yang perlahan mulai memutih di balik jendela kamarku.


(Kirim kritik dan saran anda ke alamat di bawah ini atau komentar di bawahnya)

PENULIS                   : Abdurra'uf Hamdan Ridzky
TWITTER                   : @UmarAbdurrauf
FACEBOOK              : Umar Abdurrauf